Mengenal Jepang Melalui Enikki

Di Museum lilin Madame Tussauds, Bangkok. Semoga bisa bertemu kembali dengan Doraemon di Museum Doraemon di Jepang. Di Museum lilin Madame Tussauds, Bangkok.
Semoga bisa bertemu kembali dengan
Doraemon di Museum Doraemon di Jepang.

"Ohayou gozaimasu. Saa, hajimemashou, おはよう ございます。 さあ, 始めましょう" sahut sensei Drs. Nandang menggema di dalam kelas setiap pagi di akhir pekan. Kata sapa penyemangat itu kurang lebih berarti, "selamat pagi. Ayo, mari kita mulai!" Yup, ketika di bangku SMA saya memang sempat mengikuti kursus bahasa Jepang di lembaga bahasa di kota Palembang. Ada banyak kursus bahasa yang ditawarkan. Inggris, Jerman, Perancis, Belanda… namun entah mengapa saya lebih tertarik untuk mempelajari bahasa Jepang. Bisa jadi karena kebudayaan Jepang paling banyak meresapi kehidupan saya sejak kecil.

Beserta beberapa 3 (tiga) karya pemenang lomba Enikki Beserta beberapa 3 (tiga) karya
pemenang lomba Enikki

Seperti kebanyakan anak kecil lainnya. Dari dulu saya sudah akrab dengan manga/komik Jepang. Tontonan kartun Jepang menjadi hiburan saya sejak kecil. Namun, sesungguhnya saya lebih jauh mengenal kebudayaan Jepang melalui Enikki (絵日記) atau buku harian bergambar ala Jepang. Dulu, ketika kelas 5 SD, berbekal informasi di majalah anak, untuk pertama kalinya saya mengetahui mengenai Enikki dalam sebuah kompetisi Enikki tingkat nasional. Merasa tertantang, saya lalu mengikuti kompetisi itu. Dengan tekun saya mulai menggambar dan membubuhi cerita mengenai kegiatan saya selama sepekan. Sangat menyenangkan. Belakangan saya sadar, banyak manfaat yang didapat dari membuat buku harian bergambar/enikki ini. Antara lain dapat melatih motorik serta daya kreatifitas dan berpikir seorang anak. Keren! Walaupun akhirnya saya kalah di kompetisi itu, dengan mendapatkan piagam penghargaan dari penyelenggara saja sudah senang luar biasa.

Ketertarikan saya mengenai Jepang kian memuncak. Saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang Jepang. Saya mulai belajar bahasanya dan berusaha mengenal pola hidup masyarakat Jepang melalui buku. Bahkan karena saking inginnya tinggal di Jepang, saya pernah menghubungi kedutaan besar Jepang agar dikirimi informasi mengenai beasiswa. Senang sekali ketika pada akhirnya secara rutin saya dikirimi buletin terbitan kedutaan besar Jepang. Banyak infomasi yang saya dapatkan dari sana. Walaupun pada akhirnya saya belum berkesempatan untuk menginjakkan kaki ke negeri Matahari Terbit itu toh setidaknya belajar bahasa Jepang tidak pernah sia-sia. Ketika berlibur ke Candi Borobudur, dengan kemampuan bahasa Jepang yang saya pahami, saya bisa berkomunikasi dengan turis asal Jepang. Seru!

Beserta beberapa koleksi komik, buku bersetting Jepang dan Majalah dari Kedutaan Besar Jepang Beserta beberapa koleksi komik,
buku bersetting Jepang dan Majalah
dari Kedutaan Besar Jepang

Banyak orang sering memandang remeh manga Jepang. Hei, siapa sangka saya mengetahui gambaran kehidupan di Jepang pada masa edo melalui komik berjudul 21 Emon dan mengenal kehidupan pendekar ala Jepang –Ninja melalui komik Ninja Hatori. Keduanya karangan Fujiko F Fujio. Bahkan ketika dulu di awal kemunculannya, komik Sinchan mendapat banyak 'perhatian' karena kontennya yang dinilai kurang sesuai untuk anak-anak, seorang guru saya di SMP pernah berkata. "Setidaknya kita bisa melihat bahwa anak-anak TK di Jepang sudah mempelajari biologi sejak dini." Hal ini terkait salah satu adegan ketika Sinchan sibuk kesana kemari mencari kecebong untuk dipelajari proses perkembangbiakannya di sekolah.

Semakin hari, ketertarikan saya akan pola pendidikan di Jepang makin mencuat. Awalnya gambaran konsep pendidikan itu saya dapatkan dari buku "Totto Chan : Gadis Cilik di Jendela" yang menceritakan masa kecil Tetsuko Kuroyanagi. Tetsuko kecil –Totto Chan, beruntung sekali bisa belajar di sekolah Tomoe Gakuen (yang dibangun dari rongsokan gerbong kereta) karena di sekolah ini ia merasa sangat dipahami keinginannya sebagai seorang murid. Terlebih oleh kepala sekolah Sosaku Kabayashi yang ramah. Tomoe Gakuen juga memiliki kurikulum pembelajaran yang unik. Dimana semua murid boleh memilih pelajaran mana yang paling mereka sukai sehingga potensi masing-masing siswa bisa muncul dengan sendirinya. Hasilnya? Kini Totto Chan aka Tetsuko Kuroyanagi menjadi duta UNICEF dan menjalankan misi kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

Gambar 4 Beserta artikel di majalah perusahaan
dan kaver buku Dengan Pujian,
Bukan Kemarahan : Rahasia Pendidikan
dari Negeri Sakura

Bagaimana pola pendidikan Jepang di mata warga Indonesia itu sendiri? Saya mendapatkan gambaran itu melalui buku yang ditulis oleh Nesia Andriana Arief, seorang ibu rumah tangga yang selama 12 tahun tinggal di Jepang. Melalui bukunya yang berjudul "Dengan Pujian, Bukan Kemarahan : Rahasia Pendidikan dari Negeri Sakura" penulis bertutur bahwa para orang tua dan pendidik di Jepang punya cara tersendiri untuk menegur anak yang tak sengaja melakukan kesalahan. Bukan dengan omelan apalagi bentakan, tetapi mereka selalu melakukannya dengan pujian, apapun kesalahan anak didik mereka. Setiap anak dianggap berprestasi. Tidak ada pembagian ranking di kelas. Yang ada, para murid akan diberikan stiker pujian atas apa yang mereka lakukan.

"Buku itu (rapot), juga dilengkai macam-macam stiker yang mengentarai tiap satu bulan. Stiker itu berisi kata-kata pujian. Yoku gambatta ne [Sudah bersungguh-sungguh, ya...], sugoi [hebat!], arikko-san [anak baik], dan kata-kata lain bermakna serupa," ujar Nesia. Sungguh menginspirasi. Dengan begini terlihat rasa percaya diri masyarakat Jepang sudah terbentuk sejak dini. Bahkan, dikarenakan tulisan ini, saya terpacu menulis sebuah artikel di majalah terbitan perusahaan dengan mengaitkan pola pendidikan ala Jepang ini dengan ritme komunikasi antara rekan kerja di perusahaan tempat saya bekerja. Artikel itu pada akhirnya dapat dibaca oleh seluruh karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya makin penasaran dengan Jepang. Ingin rasanya bisa melihat langsung bagaimana masyarakat Jepang menjalani aktivitas keseharian. Terlebih mengenai pola pendidikan anak-anak di Jepang. Selain itu, banyak hal-hal menarik mengenai sikap dan kebiasaan masyarakat Jepang yang sering saya dengar. "Di Jepang, orang akan merasa malu jika terlambat dan tidak menepati janji" atau, "Kejujuran masyarakat Jepang nomor 1. Saya tidak pernah khawatir kecurian atau kehilangan barang di Jepang."

Nah, menarik bukan jika saya bisa melihat dan merasakan langsung hal itu? Ya, semoga saja mimpi masa kecil saya untuk menjejakkan kaki di negeri indah itu bisa terwujud berkat ajang Konnichiwa Jepang Award 2013 ini. Pada akhirnya, saya ingin mengutip perkataan nenek Osano di buku Saga No Gabai Baachan yang ditulis oleh Yoshichi Shimada bahwa, "sampai mati, manusia harus punya mimpi!" dan mimpi terdekat saya ialah mengunjungi Jepang. "Nenek Osano, doakan saya ya!"

 

Oleh:
Haryadi Yansyah

Kembali

TOP